top of page

BagIKAN News - Rumput Laut; Another potential carbon sink

Updated: Jun 9, 2020


Jakarta, 4 Apr 2017. Siapa yang mengira rumput laut yang selain digunakan untuk konsumsi dapat juga digunakan sebagai penyerap karbon. Alternatif penyerap karbon saat ini penting karena resiko perubahan iklim akibat pemanasan global yang dipicu oleh tingginya kadar karbon di atmosfer. Erlania, peneliti pada Pusat Riset Perikanan mengungkap potensi lain rumput laut pada kesempatan kali ini. Rumput laut yang termasuk pada kelompok makroalga berpotensi sebagai penyerap karbon karena tumbuh cepat dengan cara budidaya yang mudah dan murah. Selain itu rumput laut mapu mengolah limbah organik (Nitrogen dan Fosfat) termasuk CO2 yang terdifusi ke perairan. Beberapa studi menempatkan rumput laut sebagai alternatif dalam carbon sequestration. Apalagi jika melihat fakta bahwa CO2 terlarut di air laut lebih tinggi kandungannya dibanding di atmosfer. Wanita asli Sumatera Barat ini juga menjelaskan berbagai jenis metode budidaya rumput laut termasuk kekurangan dan kelebihan setiap metode. Paling tidak ada 4 metode, yakni rakit apung, lepas dasar, rawai dan tebar tambak. Namun yang terpenting adalah kondisi perairan budidaya haruslah bebas polusi, kaya nutrient dan berarus kencang. Beliau menambahkan bahwa secara umum puncak produksi rumput laut di Indonesia terjadi pada bulan Juni-Juli dan produksi yang rendah berasosiasi dengan musim penghujan. Selain itu ada kecemasan bahwa rumput laut juga mengakumulasikan logam berat karena sifatnya yang seperti penyaring. Oleh karena itu pentingnya kita mengetahui asal dan lokasi rumput laut yang akan kita gunakan serta mengawasi pencemaran logam berat agar tidak terjadi di perairan kita. CO2 oleh rumput laut akan terikat dalam senyawa organik. Potensi rumput laut ini telah diujicobakan dalam skala penelitian yakni pada sistem yang disebut sebagai IMTA (Integrated Multi-Trophic Aquaculture). Wanita yang menyelesaikan S2 untuk topik yang sama menjelaskan bahwa IMTA hakikatnya membudidayakan secara lengkap setiap tingkat piramida makanan (produsen, konsumen dan pengurai) sehingga proses pemanfaatan biomassa dan limbah dapat optimal. Sebagai contoh budidaya rumput laut yang disertai budidaya abalone, kerapu dan baronang. Hasil kajian menunjukkan kualitas air pada budidaya sistem IMTA bernilai baik yang menunjukkan carbon serta limbah organik dapat didaur ulang dan dimanfaatkan. Hasil positif ini tentu berpeluang dalam pelestarian lingkungaj termasuk memberikan nilai tambah ekonomis karena mengoptimalkan pengunaan pakan serta mengurangi resiko kematian akibat limbah organik. Erlania juga menambahkan peluang pembutan bioreaktor rumput laut sebagai penyaring air. Idenya adalah air berlimbah organik akan di-treatment oleh rumput laut untuk dimanfaatkan kandungan nitrogen, fosfat dan CO2 yang dikonversi menjadi biomassa rumput laut. Beliau juga menambahkan peluang rumput laut dalam skema carbon trading. Sehingga pembudidaya mendapat insentif atas hasil kerja kerasnya sembari melangkah untuk mengurangi carbon. Atau insentif bagi negara untuk menenggelamkan rumput laut ke laut dalam untuk tujuan carbon sequestration. Bagaimana, tertarik untuk membudidayakan rumput laut? Andhika P. Prasetyo Peneliti pada Pusat Riset Perikanan dhika_fishery@kkp.go.id | dhika_fishery@yahoo.com 081574272686 


Recent Posts

See All
BagIKAN (share) #4 - DANI Nembhard

BagIKAN (share) #4 #BlackLivesMatter! DANI Nembhard will SHARE her story and thought about it. She has 9 years career on telecoms career...

 
 
 

Comments


© 2023 by GREG SAINT. Proudly created with Wix.com

  • Facebook - Grey Circle
  • Twitter - Grey Circle
  • LinkedIn - Grey Circle
bottom of page